Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya
Mayoritas mahasiswa masuk program studi yang sebenarnya bukan keinginan utamanya.
Jadi, studi yang mereka jalani sebenarnya adalah second choice.
Lalu mereka terkejut saat saya katakan,
“Demikianlah, kebanyakan dari Anda nanti insya Allah akan menikah dengan second choice.”
“Menakutkan”, tapi begitulah fakta kehidupan dan dalil berbicara.
***
Banyak sekali mahasiswa yang awalnya terpaksa masuk program studi tertentu, lama-lama menikmati, akhirnya bisa menerima dan bahkan jatuh cinta dengan program studinya.
Demikian pula dalam pernikahan. Banyak sekali orang yang awalnya terpaksa menikah dengan orang tertentu, lama-lama menikmati, akhirnya bisa menerima dan bahkan jatuh cinta dengan pasangannya.
Pekerjaan juga demikian.
Bahkan seluruh urusan duniawi. Agar menjadi ayat di muka bumi bahwa yang terjadi adalah kehendak Allah, bukan keinginan manusia.
Hidup tidak selalu “linier”, sesuai planning. Banyak sekali kelokannya. Agar kita selalu ingat bahwa Allahlah yang menentukan, bukan kita. Terkadang Allah menuruti keinginan kita, tapi tidak dengan cara yang kita inginkan. Zig-zag dulu sangat jauh, baru sampai pada target. Tugas kita ikhtiar maksimal, sisanya full tawakal.
Agar tidak terlalu sakit hati, semestinya seorang hamba mewajarkan keinginan dan tidak mendramatisasi dunia. Qanaah dengan pemberian Allah dan menerima semua ketentuan Allah.
Din memang perjuangan menata hati dalam banyak hal. Dalam cinta, pekerjaan, musibah, keinginan, ambisi dan lain-lain.
CATATAN
Second choice di sini istilah khusus, yaitu pokoknya bukan first choice, walaupun pilihan ke-100.
25 Februari 2024/ 15 Sya’ban 1445 H pukul 19.44