About the author

Related Articles

2 Comments

  1. 1

    Ridwan Hudiono

    Perumpamaan yang anda berikan terlihat masuk akal. Tetapi itu tidak benar. 🙂 Anda tidak bisa menyamakan 10 petani itu dengan orang yang berKTP non islam. Fenomena adanya agama baru, kepercayaan dengan penggabungan agama, ibadah yang mestinya dengan bahasa ‘khusus’ diganti dengan bahasa daerah atau bahasa yang mereka mengerti, dll. Anehkah? TIDAK!! Itu suatu kewajaran. Ketika mereka menganggap bahwa kepercayaan yang mereka anut masih mengajarkan KEBENCIAN IDENTITAS maka mereka akan mencari atau bahkan membuat kepercayaan baru. Selama kita masih SALAH TERJEMAH & TAFSIR atas berbagai kata dan istilah seperti : iman, muslim, mukmin, kafir, musyrik, dll maka KEBENCIAN IDENTITAS akan selalu tersemat di hati kita. Dalam kitab, kita tidak diperkenankan menjadi JURI atas siapa yang lebih mulia dihadapan TUHAN, walaupun kita TIDAK MEMILIKI kesamaan ras, suku, bangsa, bahasa, kekayaan, ketenaran, bahkan agama. Siapapun bisa…siapapun… bisa menerima kenikmatan di hari akhir dengan satu syarat saja. Yaitu asalkan TUHAN menghendakinya. TITIK. ‘Bagimu agamamu, bagiku agamaku’ bukanlah kalimat toleran, tapi agar kita tidak mencampuradukkan ibadat agama yang satu dengan agama yang lain. Kalaupun kita toleran, toleran yang diajarkan manusia lain kepada kita hanya sebatas ‘jika kamu baik padaku maka aku baik padamu’ saja. Allah SWT jauh lebih toleran pada umat manusia. ‘Pada tiap wajah ada yang menoleh padanya, pada tiap kepercayaan ada yang mempercayainya, pada tiap panutan ada yang menganutnya, pada tiap agama ada yang memeluknya. Lakukan kebaikan diajarkannya. Nanti pada hari akhir, Allah SWT akan mengumpulkan semuanya untuk dimintai pertanggungjawaban’. TITIK. Jangan mencoba menjadi JURI atas siapa yang lebih mulia dihadapan TUHAN. Bahkan siapa yang berhak masuk surga atau masuk neraka. Apakah ini pendapat saya atau pendapat TUHAN. Penasaran? Carilah di ‘kitab’ !! Kita akan menemukannya. Itu kalau kita bisa membaca bahasa aslinya. Bukan terjemah apalagi tafsir. Sudah saatnya kita belajar membaca. Karena sudah terlalu lama kita CUMA MELAFALnya saja !! Terlalu lama memegang terjemah. Terlalu kuat menggenggam tafsir. Saatnya kita mengetahui kebenaran dari Sang Tunggal. Semoga menjadi inspirasi bagi para ‘motivator agama’ agar membekali diri dengan ilmu membaca sehingga paham tentang apa yang disampaikan. Bukan hanya pamer lafalan serta mengumbar tafsir dan terjemah orang lain yang berisi benih-benih kebencian identitas yang tersamar.

    Reply
    1. 1.1

      Admin

      alhamdulillah. Memang tulisan saya di atas sangat masuk akal dan hanya akal sehat yang akan menerimanya. Kebenaran itu sederhana. petani maupun filosof mudah menerimanya. Jika ada sesuatu dipropagandakan dengan susah payah, apalagi dengan argumentasi mbulet, maka itu jelas kesesatan.

      gagasan Anda hanya satu intinya: mengejar tepuk tangan manusia. Agar disebut toleran. Biar disebut humanis. Biar dipuji manusia. Ini bermakna menyembah manusia, bukan menyembah Allah. Agama islam mengajarkan menyembah Allah, bukan menyembah manusia. Islam juga mengajarkan akhlak mulia, bukan akhlak kebencian. Allah juga tidak pernah memerintahkan membenci makhluk. Hanya mereka yang menghina Allah dan RasulNyalah yang layak dibenci karena Allah. Justru gagasan Anda yang mengajak membenci orang yang berusaha menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2014 - 2022 Allright Reserved. Design by IRTAQI Team.