Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya
Orang mengikuti hawa nafsu dan petunjuk itu jelas bedanya.
Pengikut hawa nafsu tidak peduli tanda dari Allah, sementara orang bertakwa itu sangat serius memperhatikan tanda petunjuk dari Allah.
Di antara contoh terbaik untuk menggambarkan hal ini adalah sikap Abu Jahal menjelang perang Badar.
***
Suatu malam, Atikah (عاتكة) bermimpi.
Ada seorang lelaki di area al-Abthah (zaman sekarang area berlampu hijau di lintasan Sai) berteriak tiga kali sambil menunggang unta,
“Hai kalian keluarga pengkhianat, pergilah ke tempat-tempat kematian kalian tiga hari lagi!”
Maka penduduk Mekah berkerumun di sekelilingnya.
Lalu ia berpindah menuju ke Kakbah. Tiba-tiba ia berada di atas Kakbah. Lalu ia berteriak tiga kali sama seperti sebelumnya,
“Hai kalian keluarga pengkhianat, pergilah ke tempat-tempat kematian kalian tiga hari lagi!”
Setelah itu, ia menuju puncak gunung Abu Qubays (zaman sekarang lokasinya di atas bukit Shafa yang sudah dipotong dan dibangun istana kerajaan), lalu berteriak lagi sebanyak tiga kali,
“Hai kalian keluarga pengkhianat, pergilah ke tempat-tempat kematian kalian tiga hari lagi!”
Lalu lelaki itu meraih batu besar, kemudian menggelundungkannya ke bawah hingga hancur berkeping-keping, lalu pecahan batunya memasuki banyak rumah penduduk Mekah.
***
Dengan mimpi sejelas ini, Atikah langsung tahu ini bukan mimpi sembarangan.
Ini pasti mimpi dari Allah.
Isyarat bahwa orang-orang Quraisy akan ditimpa musibah dan keburukan.
Ia pun menceritakan mimpi ini kepada saudaranya al-Abbas. Ia berpesan supaya dirahasiakan.
***
Atikah maupun al-Abbas adalah anak-anak Abdul Muttalib. Jadi, mereka adalah paman dan bibi Rasulullah.
Hanya saja saat terjadi mimpi ini, keduanya belum beriman.
Jadi, hujjah mimpi ini bagi kafir Quraisy lebih kuat, sebab mimpi ini muncul dari orang yang belum menyatakan diri sebagai pengikut Rasulullah.
***
Begitu al-Abbas mendengar mimpi itu, tak tahan ia untuk menceritakannya kepada sahabat dekatnya: Al-Walid.
Lalu al-Walid tak tahan menceritakannya kepada ayahnya: ‘Utbah, salah seorang tokoh besar Quraish.
Dari situ hanya berselang satu hari, segeralah menyebar mimpi itu ke seluruh penduduk Mekah. Dengan demikian genaplah hujah Allah kepada seluruh Mekah untuk menunjukkan kebenaran Rasulullah dan kebatilan kafir Quraisy.
Sebab, mimpi ini terjadi menjelang perang Badar dan secara implisit menunjukkan nubuwat bahwa akan banyak orang Quraisy yang tewas jika berani memerangi Rasulullah dalam perang Badar.
***
Tetapi Abu Jahal melihat mimpi ini secara berbeda.
POV-nya adalah soal persaingan kabilah!
Antara Bani Hasyim dengan Bani Makhzum.
Katanya pada al-Abbas kira-kira:
“Kalian ini Bani Hasyim… Bani Hasyim…
“Apa belum cukup ada yang ngaku nabi di kalangan lelaki kalian lalu sekarang ada lagi yang ngaku jadi nabi dari kalangan wanita kalian!
“Demi Allah, kita akan lihat tiga hari lagi. Jika sampai tidak terjadi apa-apa maka kami akan mendokumentasikan kalian sebagai keluarga paling pendusta di seluruh Arab!”
***
Tiga hari kemudian, datanglah Dhamdham (ضمضم), kurir Abu Sufyan.
Ia berteriak di al-Abthah menyampaikan pesan Abu Sufyan:
“Hai orang-orang Quraish, celaka-celaka!
“Harta kalian yang dibawa Abu Sufyan hendak dirampas Muhammad!
“Tolong! Tolong!”
***
Dengan bukti sekuat ini, yakni tiga hari setelah mimpi Atikah, memang benar ada pembawa berita yang mengajak perang yang bermakna ajakan menyongsong kematian, tetapi Abu Jahal menutup mata dari bukti ini!
Seakan-akan ia lupa apa yang ia ucapkan sebelumnya untuk menunggu kebenaran mimpi 3 hari setelahnya.
Ia segera mengubah isunya bukan masalah kebenaran mimpi, tapi diarahkan ke balas dendam!
Dia bilang kira-kira:
“Apa?! Muhammad hendak merampas harta kita? Tidak akan kita biarkan penghinaan ini. Sebelumnya kafilah dagang kita yang dipimpin Ibn al-Hadhrami juga dirampas. Kita tidak bisa membiarkan penghinaan ini. Kita harus berangkat perang untuk membela harta dan kehormatan kita!”
***
Beginilah contoh gambaran orang yang mengikuti hawa nafsu.
Diajari ilmu, diberi petunjuk, dikasih tanda, diingatkan oleh ayat tetapi ia berpaling, mengabaikan dan tidak peduli. Lalu ia membelokkannya pada masalah duniawi yang memuaskan keinginannya.
Betapa seringnya kita saat mendapat nasihat tapi kita menutup diri sambil mengatakan, “Ini nasehat untuk orang lain, bukan saya. Aku baik-baik saja kok. Aku tak seburuk itu.”





