Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Harf qad itu punya empat makna. Dua makna terkait fi’il māḍī. Dua makna terkait fi’il muḍāri’. Jika qad mendahului fi’il māḍī, maka kemungkinan maknanya dua, Pertama: bermakna taḥqīq (التَّحْقِيْقُ) yang bisa diterjemahkan “telah” atau “sungguh telah”, misalnya dalam kalimat, قَدْ قَامَ زَيْدٌ Kedua: bermakna taqrīb […] Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Di alam dunia, barangkali jenggot dan bulu badan menjadi simbol kegagahan bagi sebagian orang. Apalagi sejumlah dalil juga membuat para ulama menyimpulkan hukum memeliharanya adalah sunah, bahkan ada juga yang berpendapat wajib. Tetapi di alam akhirat, jenggot dan bulu badan itu malah menjadi aib. Ada […] Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Jika disebut fā’idah (الفَائِدَةُ) atau fawā-id (الفَوَائِدُ) dalam kajian ilmu, sebenarnya apa maknanya? Kata al-Bājūrī, makna fā-idah adalah, مَا اسْتَفَدْتَهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ مَالٍ أَوْ غَيْرِهِمَا Artinya, “Sesuatu yang Anda peroleh baik ilmu, harta maupun selain keduanya.” Dengan demikan, jika konteksnya pembicaraan intelektual dan aktifitas […... Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya “Tetap meramahi walaupun dicueki. Innahū Rabbī.” *** Itulah makna al-Ḥannān (الحَنَّانُ). Salah satu sifat Allah yang indah. Walaupun hamba sering kali tidak peduli kepada-Nya, sering mengabaikan-Nya, berpaling dari-Nya dan tidak memprioritaskan-Nya, namun Dia tetap meramahi hamba tersebut, selalu menyambut jika datang, dan memaafkan jika sang […] Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Bahasa Arab yang fasih itu, setiap kali mewaqofkan kata dalam kondisi rafa’ (الرَّفْعُ) atau jarr (الْجَرُّ), maka nun tanwin selalu dibuang dan huruf terakhir disukun. Jadi, kata muhammadun (مُحَمَّدٌ) dan muhammadin (مُحَمَّدٍ), jika diwaqofkan akan dibaca muhammad (مُحَمَّدْ). Adapun dalam kondisi naṣab (النَّصْبُ), maka nun […] Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Saat Rasulullah ﷺ disakiti kaumnya, maka beliau berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ Artinya, “Ya Allah ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengerti.” *** Oo, alangkah indahnya jika seorang anak disakiti ibunya kemudian berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأُمِّيْ فَإِنَّهَا لَا تَعْلَمُ Artinya, “Ya Allah ampunilah ibuku, [... Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Jawabannya adalah: tidak punya posisi i’rāb tertentu. Itu hukum asalnya. Jadi, saat bertemu fi’il māḍī, kita menyebutnya sebagai kata yang mabni yang tidak punya posisi i’rāb. Ia bisa mabni fathah, mabni sukun atau mabni damah tergantung kondisinya. Tapi tidak punya posisi i’rāb . Dikecualikan jika […] Read more

















