Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Kata asyaddu (أَشَدُّ) tergolong isim tafdil. Maknanya: Yang terkuat/terhebat/terkeras. Asalnya adalah asydadu (أَشْدَدُ) sebagaimana semua isim tafdil yang berwazan af’alu (أَفْعَلُ). Kemudian terjadilah terjadilah proses idgām (الإدغام), yakni penyatuan dua huruf kembar. Hanya saja, idgām itu mensyaratkan huruf kembar pertama harus disukun. Jika huruf kem... Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya MERASA DIRI ISTIMEWA dibandingkan hamba Allah yang lain adalah jenis terperangkap dalam tipuan setan karena itu sifat takabbur. Tapi menjatuhkan diri sejatuh-jatuhnya SUPAYA DAPAT GELAR TAWADUK juga tipuan setan yang lain. Sungguh “sesuatu” sekali perjuangan menjadi hamba Allah sejati itu. Alangkah butuhnya kita setiap hari […] Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Kāna (كَانَ) itu sering diterjemahkan “ada” atau “adalah”. Kadang juga diterjemahkan “sudah menjadi kebiasaan”. Tetapi kāna juga bisa bermakna ṣāra (صَارَ), yakni bermakna “menjadi”, seperti ayat dalam Al-Qur’an, ﴿فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ ﴾ [هود: 43] Artinya, “maka dia (Kan’ān, putra nabi Nuh) menjadi termasuk mereka yang […] Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Syair jahiliyyah paling mesum yang pernah saya dapati adalah bait Umru-ul Qais ini, وَمِثْلكِ حُبْلَى قَدْ طَرَقْتُ ومرضعا … فَأَلْهَيْتُهَا عَنْ ذِي تَمَائِمَ مُحْوِلِ lalu: إذَا ما بكى من خلفها انْصَرَفَتْ لهُ … بشِقٍّ وتحتي شِقُّها لم يُحَوَّلِ Geleng-geleng kepala saya saat pertama kali membacanya. […] Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Hukum mengucapkan ammā ba’du adalah sunah. Dalilnya adalah karena Rasulullah ﷺ menyebutkannya dalam surat-surat resmi beliau dan juga terbiasa beliau ucapkan dalam ceramah-ceramah dan pidato beliau. Al-Bājūrī berkata dalam Fatḥu Rabbi al-Bariyyah, وَيُسْتَحَبُّ اْلاتْيَانُ بِهَا فِيْ أَوَّلِ اْلكُتُبِ لأَنَّهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَأْتِيْ […] Read more
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya Kaidah umumnya begini: Setiap isim yang diakhiri huruf illat, maka i’rabnya bukan lafẓi tapi taqdīrī. Misalnya frasa dalam bait ke-6 nazham al-‘Imrīṭī berikut ini, جُلُّ الوَرَى Cara mengi’rabinya begini. Jullu adalah muḍāf. I’rāb-nya rafa’ (الرَّفْعُ). Tanda rafa’nya adalah harakat damah yang tampak di akhir kata. […] Read more

















